BITTER FAREWELL, SWEET HELLO

“BITTER FAREWELL, SWEET HELLO”

By : Janet Xu

  • Cast : Son Naeun (Apink), Lee Taemin (SHINee)
  • Genre : Romance
  • Length : Oneshot
  • Rated : PG-15
  • Rule : No bashing, No plagiarism, Please be a good reader ^^and also Please leave your comment after read this fiction. I need your opinion or support  to improve my writing skill so I can present a better story. ^^
  • Disclaimer :  The casts are not belong to mine, the characters and the story are belong to mine. Just a fiction, if you don’t like, please be respectful.

A farewell without you is too hard
If you’re not satisfied with me and need to love another person
If that’s good for you, then it’s good for me too

– Zia (For A Year)

Aku masih ingat saat itu. Saat suara deru kereta api seolah berkejaran dengan detak jantung yang berdentum di dalam rongga dada ini. Tidak mungkin kulupakan, rasa sesak yang menekan tenggorokanku, suara tercekat yang keluar dari kedua bibir yang gemetar ini, saat kau katakan,

“Selamat tinggal, Son Naeun…”

Tega!

Hanya itu satu-satunya kata yang bergema dalam pikiran ini, sementara mulut ini seperti terkunci.

Kata orang, stasiun memang tempat perpisahan. Tapi aku tak menyangka bahwa perpisahan yang kualami ini, bukanlah perpisahan untuk bertemu kembali. Laki-laki ini pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Sebab ia pergi untuk perempuan lain. Selamanya pada perempuan itulah ia akan kembali. Bukan padaku.

“Kamu perempuan baik, Naeun-ah…” katanya sambil mengelus pipiku, menghapus air mata yang menggenangi pelupuk mataku dengan punggung tangannya. “Dan aku bukan laki-laki yang tepat buat kamu…”

Kalau aku baik, kenapa ia tega meninggalkanku? Mencari perempuan lain, bukankah artinya aku kurang baik? Ingin kutepis tangannya saat itu. Tapi hati ini lemah, mata ini tak berani berpaling darinya. Aku baik tapi bodoh. Mungkin itulah alasan mengapa ia memilih perempuan itu.

Hari itu, aku menangis terduduk di peron kereta. Menangis keras-keras, memukul dadaku kencang-kencang. Sakit di dada ini mengalahkan malu. Rasanya lebih perih daripada dihunus pisau. Masih terbayang senyumnya saat perlahan kereta berlalu. Senyumnya bahagia, tidak pernah secerah itu sebelumnya. Senyum itu sungguh seperti membunuhku. Tiga tahun bersama, ternyata bahagia tak pernah kuberikan padanya. Senyumnya untukku selama ini mungkin hanyalah pemanis saja.

Kalau dia bahagia untukmu, aku pun akan bahagia untukmu.

Setidaknya, aku akan belajar untuk bahagia untukmu.

Setahun berlalu, aku masih berusaha mengubur kenangan itu. Namun nyatanya, masih sulit rasanya menghapus bayang-bayang perpisahan itu. Buktinya saat ini, aku sedang duduk di stasiun kereta api ini. Sendirian, memandangi lalu lalang manusia di samping sebuah gerbong kereta yang akan berangkat beberapa saat lagi. Di hadapanku, seorang gadis menunduk meneteskan air matanya, sementara di hadapannya berdiri seorang laki-laki yang tersenyum pahit sambil menangkup kepala gadis itu. Laki-laki itu mengecup puncak kepala si gadis, kemudian berbisik pelan. Entah apa yang dibisikannya, yang jelas gadis itu perlahan menampakan senyumnya, memeluk laki-laki itu dan mengecup pipinya. Mau tak mau aku tersenyum karenanya.

Beberapa menit berlalu, kereta api perlahan berlalu. Nampak juga beberapa yang berlari kecil di samping gerbong-gerbong yang pelan-pelan bergerak. Seorang ibu yang tersenyum menahan tangis sambil melambai pada putrinya di balik jendela. Wajah ibu itu sedih tapi tersirat raut bangga. Dugaanku, sang anak pergi ke suatu tempat untuk mengejar cita-citanya. Sekali lagi,aku tersenyum karenanya.

Stasiun mungkin memang tempat perpisahan. Namun ada banyak kisah berbeda di balik perpisahan itu. Ada banyak tangis, tapi tangis yang memiliki arti masing-masing. Dan kisah milikku bukanlah salah satu yang bagus.

Tak ada gunanya berlama-lama di tempat ini, aku beranjak dari tempat dudukku. Tepat saat aku melangkah, sebuah kereta datang di balik badanku. Suara pintu kereta yang terbuka terdengar jelas. Aroma pendingin mulai menusuk hidungku. Langkah-langkah kaki terburu-buru juga berderap-derap setelahnya. Lalu kemudian seorang laki-laki dengan kemja berlapis sweater kotak-kotak menabrakku hingga aku terjatuh.

“Agasshi! Cheongmal Jeosonghamnida!” [Nona! Saya sungguh-sungguh minta maaf!] katanya lalu mengulurkan tangannya.

Aku menyambut uluran tangannya, perlahan berdiri lalu menepuk-nepuk rok untuk membersihkan beberapa bagian yang kotor. Lumayan sakit juga.

“Gwenchanayo,” kataku. “Anda pasti terburu-buru…”

“Son Naeun?”

Aku terhenyak oleh panggilan itu. Bagaimana bisa laki-laki ini mengenaliku?

Dengan seksama kuperhatikan wajahnya. Sepasang mata bening seperti mata rusa. Senyum ramah dari kedua belah bibirnya. Helai-helai rambut hitam yang jatuh hampir menutupi setengah matanya. Bahunya yang bidang. Dan aroma mint yang menguar dari dadanya. Aku ingat siapa dia.

Empat tahun yang lalu, aku melepasnya di stasiun ini. Sama seperti ibu yang melepas putrinya tadi, aku melepasnya dengan tangis tertahan dan senyum bangga dari balik jendela yang perlahan menghilang dari pandanganku. Temanku ini akan pergi dari kota ini untuk mengejar harapannya, menjadi seorang penyanyi. Tak tahu kapan ia akan kembali.

Dan kini ia berdiri di hadapanku, masih memegang sebelah tanganku.

Dia benar-benar berubah. Dulu ia hanya seorang anak laki-laki bertubuh kecil dan kurus dengan rambut agak panjang dan dicat warna kuning. Sekarang ia bertambah tinggi, bahunya terlihat lebar, garis wajahnya tampak lebih keras, rambutnya hitam, tetapi senyum ramahnya tetap sama. Sorot matanya masih hangat seperti dulu.

“Lee Taemin! Oraenmaniya!!” [Lee Taemin! Lama tak bertemu!!]

Aku tak pernah tahu skenario apa yang dunia ini siapkan untukku. Stasiun bukan lagi tempat perpisahan bagiku. Di tempat ini aku berpisah dengan seseorang yang tak akan pernah dapat kutemui lagi. Di tempat ini juga aku bertemu kembali dengan seseorang yang kukira tak akan pernah kutemui lagi.

“Bogoshipeo, Naeun-ah…”

12 o’clock

” 12 O’CLOCK “

  • Cast : Park Chanyeol (EXO), You
  • Genre : Romance
  • Length : Oneshot
  • Rated : PG-15
  • Rule : No bashing, No plagiarism, Please be a good reader ^^and also Please leave your comment after read this fiction. I need your opinion or support  to improve my writing skill so I can present a better story. ^^
  • Disclaimer :  The casts are not belong to mine, the characters and the story are belong to mine. Just a fiction, if you don’t like, please be respectful.

“Wait. This was the first lesson I had learned about love. The day drags along, you make thousands of plans, you imagine every possible conversation, you promise to change your behavior in certain ways — and you feel more and more anxious until your loved one arrives.”

– Paulo Coelho, By The River Piedra I Sat Down and Wept –

Tick… Tock…

Waktu menunjukan hampir pukul 12 tengah malam. Salju yang turun menutupi jalanan kota Seoul makin menebal, dan aku masih duduk di sini, di salah satu bangku kayu di sudut kota Seoul. Dinginnya malam yang makin menjadi-jadi membuatku terpaksa harus bolak balik menggosok-gosok kedua telapak tanganku untuk mendapatkan sedikit rasa hangat. Kebiasaanku paling buruk di saat musim dingin, lupa memakai sarung tangan. Kalau dia tahu, pasti dia akan memarahiku habis-habisan

Malam natal…

Tiga tahun yang lalu dia berjanji untuk menemuiku di malam natal, di tempat ini, di sebuah kursi kayu di salah satu sudut kota Seoul ini. Kami bertengkar hebat saat itu. Tak ada satupun yang mau mengakui kesalahannya, tak ada satupun yang bersedia untuk menurunkan intonasi suaranya. Semua ingin mempertahankan egonya, saling mengungkit bejibun kesalahan yang pernah kami buat.

Saat itu kami sama-sama menyadari, bukan cinta namanya kalau masih ingin menang sendiri.

“So, this is what you want?” tanyaku.

Chanyeol mengangguk. Matanya menatapku dengan sisa amarah yang berhasil ia pendam. Aku sendiri masih penuh dengan emosi, akal sehatku belum dapat bekerja sempurna. Jika saja ia tidak mengatakan kata ‘putus’, mungkin mulutku masih melancarkan caci maki pedas kepadanya. 

“Aku pikir kita butuh waktu,” katanya dengan intonasi tertahan. “Aku pikir aku sudah cukup mengenal kamu. Ternyata aku salah.”

“…”

“Sekarang aku ragu, apa aku benar-benar cinta sama kamu? Ragu juga, apa kamu benar-benar cinta sama aku?”

Saat itu perlahan aku mulai menyadari, mungkin aku sudah keterlaluan. Aku bahkan lupa caci maki apa saja yang sudah aku lontarkan padanya. Mungkin ada yang menyakitinya terlalu dalam, dan sekarang aku menyesal. Ada raut kecewa di sela-sela tatapan matanya. Tidak hanya menyesal, aku bahkan mulai merasa sangat bersalah.

“Kamu gak pernah percaya sama aku. Setiap ada perempuan di dekatku, kamu langsung curiga dan mulai menciptakan cerita-cerita yang sebenarnya gak pernah terjadi.” kata Chanyeol. Intonasi suaranya tak lagi tinggi seperti saat kami bertengkar tadi. “Hidup aku gak cuma tentang kamu. Ada sahabat-sahabatku, ada juga keluargaku. Kalau yang kamu mau itu menguasai aku, aku rasa aku gak bisa.”

“Chanyeol-a,” aku meraih tangannya, namun ditepisnya. “Mianhae, aku cemburu. Kamu keliatan dekat sekali dengan perempuan itu. Pegang-pegangan tangan, elus-elus kepala, ketawa-tawa bahagia. Kamu bilang gak bisa nemenin aku ke toko buku hari ini karena urusan keluarga, ternyata kamu malah sama perempuan itu. Siapa yang gak marah?”

Chanyeol menghela nafas berat, “Aku memang ada urusan keluarga…”

“See? Bahkan kamu masih bisa bohong!” kataku, tanpa sengaja intonasi suaraku mulai meninggi. “Kamu bohong terus sama aku!”

“For a God sake! She’s my cousin!”

Ya Tuhan! Aku membuat kesalahan besar. 

“Kenapa kamu gak bisa percaya sama aku? Terus saja kamu bilang aku pembohong!” Chanyeol.

“Chanyeol-a, mianhae…” 

Aku kembali berusaha meraih tangan Chanyeol. Kedua mataku memanas, air mata mulai merebak di pelupuknya. Rasa bersalah dan penyesalan berputar-putar di dalam rongga dadaku, sampai sesak rasanya untuk bernafas. Rasa takut kehilangan juga menyerang. Hilang akal, aku hanya mampu menundukan kepala dan menangis terisak-isak. Entah mungkin karena iba atau karena tidak enak dilihat orang yang berlalu lalang di pinggir jalan, Chanyeol memelukku. Di dadanya aku terisak-isak lebih pilu. 

“Aku cuma mau kamu percaya sama aku, tapi kelihatannya itu susah sekali buat kamu. Mari berpisah sementara waktu…” kata Chanyeol, kemudian mengecup sisi kepalaku. “Sampai aku siap, aku akan ketemu sama kamu lagi. Di sini, di malam natal seperti hari ini.”

“Gimana kalau kamu gak datang?” Aku.

“Aku cuma mau kamu percaya. Cuma itu aja.”

Tiga tahun ini aku belajar untuk percaya. Setiap malam natal aku menunggu di tempat ini, menunggu Chanyeol untuk datang menemuiku. Chanyeol tidak pernah datang, tetapi aku percaya bahwa malam natal tahun depan ia pasti akan menemuiku. Jika hari ini ia tidak datang seperti tahun lalu, aku akan tetap menunggunya di sini tahun depan, tahun depannya lagi, tahun tahun depannya lagi. Terus sampai Chanyeol datang.

Karena aku percaya.

“Hai?”

Sebuah sapaan membuatku segera berbalik. Aku tidak mungkin salah karena aku kenal benar suara siapa itu. Chanyeol berdiri di sana, tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya. Senyum khas yang kurindukan itu.

“Chanyeol-a…”

Jam 12, tepat di bawah jam besar di sudut jalan ini aku berlari memeluknya. Tubuhnya yang hangat, aroma mint cologne yang menguar dari dadanya, dan kecupan di kepala. Aku sungguh merindukannya.

“Kenapa nggak pake sarung tangan? Kebiasaan!” bisik Chanyeol di telingaku.

“Mianhae…” kataku menahan isak. Chanyeol menyelubungi tubuhku dengan jaket yang yang ia kenakan. Aku mendongakan kepala untuk memandang wajahnya. Senyum itu masih tersungging di bibirnya. “Aku tunggu kamu terus di sini setiap tahun.”

“Aku tahu…” katanya.

“Kamu tahu tapi gak nemuin aku?”

“Aku gak nemuin kamu tapi kenapa kamu terus nunggu setiap tahun?” Chanyeol malah balik bertanya.

“Karena aku percaya kamu akan datang nemuin aku.”

Chanyeol tertawa tanpa suara. “Aku juga menunggu sampai kamu benar-benar percaya sama aku.”

Jam 12 tengah malam. Aku bukan Cinderella yang kehilangan sebelah sepatu kacanya tepat pada pukul 12 tengah malam. Aku cuma perempuan yang mendapatkan kembali laki-lakinya karena akhirnya aku dapat mempercayainya. Cinta bukan perkara tentang memiliki satu sama lain. Cinta itu tentang perasaan, tentang menerima, tentang mengerti, dan juga tentang percaya.

 

15 – Chocolate Cake Situation

Disclaimer :  People, names, some places, and events in this story are fiction. If there is a similarity with any particular situation out there, it’s only by a chance only. No copycat. Be a respectful reader.

CHOCOLATE CAKE SITUATION

Menjelang natal seperti ini, pesanan kue mendadak jadi bejibun, contohnya hari ini. Gue harus membuat tiga loyang cake pesanan yang berbeda-beda, untuk tiga event yang berbeda-beda pula, namun di jam yang hampir berdekatan satu sama lain. Bayangkan, tiga jenis pesanan kue macam Lemon Raspberry Cake, Pinata Cake, dan Cream Cheese Rainbow Cake, belum lagi beberapa menu spesial κέικ  yang harus gue jual hari ini seperti Fruit Cake in The Jar, Lava Cake, Frozen Berry Cheesecake, dan Nutella Cupcake. Karena kesibukan yang super sekali ini, gue terpaksa meminta 5 karyawan gue tercinta itu untuk membantu gue sejak pukul 5 pagi tadi. Sementara Bebby dan Aya, dengan iming-iming dapat cake gratis, langsung siap sedia membantu.

Sayang, dari semua yang membantu gue, Bebby yang paling merepotkan. Dalam hitungan setengah jam, Bebby sudah menumpahkan setoples Nutella, sebungkus tepung dan sekotak blueberry, menjatuhkan tiga adonan Cake in The Jar, memecahkan sekotak telur, dan menghabiskan dua bungkus M&M yang harusnya menjadi isi Pinata Cake. Mau diusir, gue gak tega.

Untuk meminimalisir kekacauan, secara halus gue meminta Bebby untuk menjaga toko bersama Yola dan Satria ketika beberapa special menu κέικ sudah siap dijual dan cake shop dibuka.

Tetapi ternyata kekacauan jenis lain malah datang. Memang dunia ini suka sekali bercanda. Selalu saja ada yang namanya cobaan kalau situasi sedang genting. Cobaan itu datang dari Kak Tama, salah satu sahabat baik Arjuna.

Altonia Pratama, atau biasa dipanggil Tama, bukan lagi nama yang asing bagi sebagian penduduk ibukota, bahkan mungkin bagi sebagian penduduk Indonesia. Sejak jaman kuliah dulu, Kak Tama sudah eksis dikenal sebagai seorang selebtwit. Gue masih ingat, suatu ketika Kak Tama pernah terlibat twitwar heboh dengan seorang selebtwit lainnya gara-gara meributkan mana yang lebih keren antara girlband Apink dan Girls Day dari Korea. Sejak itu followers-nya di Twitter bertambah, bahkan sekarang punya fanbase sendiri yang bernama TAMAGOCHI. Gue gak tahu apa makna dari TAMAGOCHI. Gak jelas aja hubungan antara Kak Tama dengan mainan yang populer tahun 90’an itu.

Apa sih yang membuat Kak Tama populer? Kalau menurut gue, mungkin karena dia supel dan pengetahuannya luas banget. Tapi yang gue gak suka dari Kak Tama, dia orangnya berisik. Hal yang sekecil kerikil, bisa dibuatnya menjadi sebesar batu kali.

Jadi, bisa dibayangkan kalau seorang Kak Tama bertemu dengan Bebby yang terlahir dengan berbagai macam kekuatan super, dari super ceria sampai super merepotkan? Jadinya yah seperti ini,

“Selamat datang, selamat pagi, selamat menyambut sang mentariiii…” kata Bebby begitu lonceng pintu toko terdengar.

Apanya yang menyambut mentari? Jelas-jelas dari tadi pagi mendung disertai suara gludak gluduk. Ini adalah salah satu kekuatan super Bebby yang tadi gue ceritakan. Selain super ceria dan super heboh, dia juga super ramah dan super optimis.

“Bebby!” panggil Kak Tama, heboh sekali ekspresinya. “Kak Tama butuh kue cokelat sekarang. Urgent!”

“Hoh!” Bebby menjadi ikut heboh ekspresinya. Bibirnya dimaju-majukan, matanya membulat. “Urgent?!”

“Bebby!” panggil Kak Tama lagi. Gak tahu kenapa nada memanggilnya harus menyentak macam itu. Bebby jadi tambah panik. “Bebby!”

“Iya! Iya!”

“Udah lima hari,” Kak Tama menunjukan angka lima dengan jarinya, “Gara-gara gambar di instagram kakak, gara-gara followers kakak yang kurang ajar itu, kakak jadi ngidam kue cokelat.”

Bebby manggut-manggut. Sementara Kak Tama memandangnya dengan tatapan nanar minta dikasihanin. Wajahnya dibuat sesendu mungkin seperti anak-anak anjing yang dibuang pemiliknya di kardus bekas.

“Kalo semisalnya Kak Tama tiba-tiba mati, Beb…”

Bebby menggeleng cepat, “Jangan, Kak…”

“Misalnya doang kok. Nah, semisalnya Kak Tama tiba-tiba mati. Kondisinya lagi craving begini. Matinya penasaran dong? Iya kan?”

Bebby mengangguk cepat. “Iya, Kak! Jangan mati penasaran, please…”

“Jadi, mana kue cokelat? Kalo Kak Tama mendadak mati, Bebby yang Kak Tama samperin duluan,” kemudian Kak Tama menirukan suara tawa kuntilanak. “Hihihihi…”

“AAAHH!” teriak Bebby sambil menutup kedua telinganya. “YOLAAA!! Itu Kak Tama mau beli kue cokelat!!”

Yola yang sedari tadi sibuk menahan tawa bersama Satria, buru-buru pasang wajah serius karena takut dimarahi Bebby. Apa yang Bebby dan Kak Tama lakukan di hadapan mereka, mungkin kelihatan seperti sebuah adegan di panggung ketoprak humor. Kelewat bodoh dan kelewat dramatis.

“Untuk kue cokelat hari ini, κέικ  punya menu spesial Lava Cake dan Nutella Cupcake. Lava Cake-nya kita gak pakai cokelat sembarangan loh, Kak! κέικ  pakai Toblerone yang dilelehkan untuk isinya. Jadi rasanya lebih familiar di lidah penikmat cokelat. Ini inovasi baru loh. Ayo dicoba, Kak!” kata Yola panjang lebar, sudah expert dalam bidangnya.

“Nutella Cupcake-nya κέικ  juga ndak kalah istimewanya Kak!” kali ini giliran Satria dengan logat jawanya yang kental itu, senyumnya mengembang ramah. “Selain kita pakai Nutella sebagai bahan adonan, Frozen Cream kami rasanya juga juara loh. Supaya tidak terasa eneg, kami mencampur cream dengan ekstrak jus berry. Rasanya jadi agak asam manis. Enak sekali!”

Shit!” umpat Kak Tama. Satria dan Yola sampai agak berjengit karena mendengar umpatan itu. “Sekarang gue galau!”

Galaunya Kak Tama jelas membuat masalah menjadi semakin besar lagi. Seperti yang gue bilang tadi, masalah sekecil kerikil menjadi sebesar batu kali. Kalau dibiarkan berlarut-larut, mungkin bisa menjadi sebesar bukit. Akibat promosi Satria dan Yola tadi, Kak Tama tidak tahu harus membeli kue cokelat yang mana. Jika bertanya pada Satria dan Yola, mereka tentu akan menganjurkan untuk membeli keduanya. Jika bertanya pada Bebby, hasilnya yah begini,

“Saran aku, Kak… Mending beli Nutella Cupcake. Ini kan menjelang akhir bulan, biasanya dompet kering.” kata Bebby dengan wajah yang serius banget.

Kak Tama mengangguk, dengan wajah yang serius banget juga. “Uh uh…”

Nutella Cupcake ini kan harganya dua puluh ribu, kalau Lava Cake kan dua puluh lima ribu. Lumayan hemat lima ribu.”

Tama melengos. “O My God! Bebby, Bebby, Bebby… Beda lima ribu rupiah doang? Itu sih gak beda jauh harganya.”

Bebby menggaruk kepalanya, tersenyum garing dan mati gaya. “Oh gitu ya? Ahaha…ha…”

“Bentar,” Kak Tama mengeluarkan Galaxy Note 3-nya, mengambil foto kedua kue yang tadi direkomendasikan ke dia itu, dan meng-uploadnya… ke instagram. “Biar followers gue yang milih.”

“Maaf,” Satria tiba-tiba nimbrung. “Kenapa ndak beli dua-duanya. Kan cuma beda lima ribu.”

“Oh please, please, please… Mas! Itu namanya maruk!” kemudian Tama berteriak heboh saat dilihatnya nampak beberapa comment sudah muncul di instagramnya. “Udah dijawab!!”

“Jawabannya apa, Kak?” tanya Bebby, sambil berusaha mencuri-curi pandang ke layar Galaxy Note 3 milik Kak Tama itu.

“Beberapa galau juga. Dua-duanya keliatan enak sih. Dua-duanya juga murah dan cantik. Gak heran kan kalau bikin galau. Kita tunggu aja beberapa menit lagi. Eh ada air putih gak?” Kak Tama mengibas-ngibaskan tangannya di sekitar tenggorokannya. “Haus nih…”

“TAMCE! LO MINTA GUE APAIN COBA?!”

Jelas itu suara Kak Key, dari dapur saja sudah dapat dikenalin. Gue benar-benar malas untuk keluar dapur dengan kehebohan yang semakin lama semakin brutal. Lebih baik gue konsen pada kue-kue pesanan, seperti Aya yang saat ini sedang asyik membuat adonan Rainbow Cake warna warni yang rencananya akan dibuat enam layer.

“Key! I’m craving for chocolate cake! I’m super craving like I’m going to die! Seriously!” teriak Kak Tama.

“TAMCE! Stop pissing me off or else I’m going to cut you into pieces!” kemudian terdengar suara Kak Tama berteriak. Mungkin rambutnya dijambak, karena Kak Key suka sekali menjambak rambut temannya. “Itu Mbak Elly yang dari Zara udah nungguin di F! Buruan!”

“Terus, Key…?? Gue harus beli kue cokelat yang mana? Ini penting! Masalah hasrat dan perut gue.” Kak Tama.

“Buruan!”

“Key! Aduuuh!” Kak Tama berteriak lebih miris dan kencang dari tadi. “Jangan dijewer! Heh!!”

“BURUAN!!” teriak Kak Key, lebih kencang dari sebelumnya.

“Aduh, aduuhh…” kali ini terdengar suara Bebby. Suaranya terdengar prihatin dan ngilu. “Kak Key, nanti kupingnya Kak Tama copot…”

“Bebby, gak bakal copot kok. Paling agak sobek dikit…”

“HIIIIGGGHH….” kata Bebby dengan nada yang makin lama ditarik makin tinggi.

“KEY!! Lo kata gue galon, diseret begini?! SAKIIIT!!”

“BURUAN!!”

“Itu gue beli dua-duanya!” kata Kak Tama, akhirnya membeli kedua jenis kue cokelat yang dijual hari ini.

YESSS!!” teriak Yola dan Satrio bersamaan, gembira karena promosi mereka berhasil, sama sekali tidak peduli dengan telinga Kak Tama yang mungkin sudah merah tua karena dijewer dan diseret.

“Bebby,” panggil Kak Tama dengan suara miris. “Bilangin Jeje, nanti bayarnya nyusul yah. Ngutang dulu. Terus itu kuenya dianter ke F yah…”

“Iya, Kak…” kata Bebby dengan suara yang masih menahan ngilu, sambil mengusap-usap telinganya sendiri.

“SIAP, KAK! KAMI TUNGGU KEDATANGANNYA LAGI!!” teriak Yola dan Satria kompak, terdengar semangat sekali.

“KEY! NANTI KUPING GUE LANCIP KAYAK YODAAA!!”

“BODO!!”

 …

14 – I Do Hate Him, Do I?

Disclaimer :  People, names, some places, and events in this story are fiction. If there is a similarity with any particular situation out there, it’s only by a chance only. No copycat. Be a respectful reader.

I DO HATE HIM, DO I?

Belanja pernak-pernik natal mungkin adalah kegiatan asyik sebelum menghias pohon natal. Karena berbeda dengan kebanyakan orang yang suka membeli hiasan pohon natal yang sudah jadi, gue lebih suka membuatnya sendiri bareng sahabat-sahabat gue. Hiasan natal tahun ini kami kreasikan dari bohlam bekas yang didapat dari kantornya Abay. Entah dari mana asal bohlam-bohlam bekas itu.

“Kan isinya udah gue keluarin, bagian tengah bawahnya udah gue bolongin. Diisi apa gitu biar manis.” kata Abay sambil membawa keranjang belanjaan.

Saat ini kami sedang di toko pernak-pernik yang ada di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Suasana natal kental dengan lagu-lagu natal yang berkumandang membuat hati terasa senang. Cepat sekali waktu berjalan. Sepertinya baru kemarin gue dan Bebby menginap di rumah Aya, bantu-bantu Tante Silvi, nyokabnya Aya untuk bikin ketupat. Tak terasa sekarang sudah penghujung tahun.

“Kun,” Aya memanggil Abay. Di tangannya ada hiasan rumbai-rumbai pohon natal berwarna perak. “Kalo pake ini gimana?”

“Ini kan tinggal dipasang aja, gak usah pake bohlam!” kata Abay sewot sambil menuding-nuding hiasan natal itu.

“Heh, makanya dengerin dulu. Gue ngomong belum selesai tadi.” Aya.

“Nada lo udah kayak orang selesai ngomong gitu!” kata Abay, menuding Aya dengan ekspresi sok seru, yang kira-kira jika dilihat bikin orang nafsu menampar wajahnya.

“Gue colok nih mata lo,” kata Aya sambil melotot. “Gue kan butuh nafas. Tadi itu gue jeda doang, bukan selesai ngomong,”

“Alesan!”

“Auk ah!” Aya yang bete langsung meninggalkan Abay dan menaruh hiasan rumbai-rumbai perak tadi ke tempatnya.

Melihat Aya bete, Abay buru-buru mengambil hiasan tadi dan memasukannya ke keranjang yang dibawanya. Cepat-cepat dikejarnya Aya yang wajahnya sudah asem setengah mati.

“Mun!” Abay menyejajarkan diri di samping Aya. Sambil pasang wajah sok polos, Abay tersenyum pamer gigi di hadapan Aya.

“Lo lagi PMS ya, Mun?” kata Abay masih dengan gigi yang dipamerkan.

“Rese ah!” Aya buang muka dari Abay, berusaha menahan tawa. Anak itu memang ditakdirkan susah marah pada Abay. “Gak usah deket-deket gue!”

“Iya, gue gak deket-deket. Tapi cerita dulu, itu tadi rumbai-rumbainya mau diapain?”

Aya berhenti berjalan, mengambil rumbai-rumbai perak dari keranjang yang dibawa Abay. “Jadi, ini nanti kita gunting kecil-kecil terus dimasukin ke dalam bohlamnya. Beli warna-warni. Kan lucu kalo digantung di pohon natal. NGERTI KAAAN?!”

“Heh!” Abay buru-buru membekap mulut Aya. Matanya melirik ke kanan dan kiri. “Lo apaan sih teriak-teriak? Nanti kita disangka lagi syuting FTV…” kata Abay berbisik-bisik.

“Syuting FTV apaan?” suara Aya terdengar tidak jelas dari balik bekapan tangan Abay.

“Gue mirip sama Dimas Aditya kan?”

Aya menoyor sebelah pipi Abay, “Ngarep lo!”

Sementara itu, gue dan Bebby yang sedang asyik melihat-lihat lonceng-lonceng kecil warna-warni di salah satu rak toko, harus terusik dengan kedatangan Arjuna bersama seorang perempuan berperawakan mungil yang nampak begitu bahagia digandeng oleh Arjuna.

Perempuan ini benar-benar sangat manis. Rambutnya panjang dan nampak halus. Matanya besar dan terlihat cantik dengan softlens abu-abu yang digunakannya. Kalau tertawa, nampak dua lesung pipi yang menambah manis wajahnya. Gayanya sangat feminim dan elegan dengan terusan selutut motif bunga-bunga kecil. Make up yang dikenakan tidak menor, hanya pulasan bedak dan lipstick warna merah muda.

“Jeje,” panggil Bebby pelan. “Lo gak papa?”

Gue berusaha nampak setenang mungkin, padahal tangan gue sebenarnya sedikit gemetar. “Gak papa. Yuk, kita lihat ke tempat lain.”

Sekuat mungkin gue berusaha untuk tersenyum, sok tegar. Bebby memang seringkali melakukan tindakan bodoh, tapi dia tidak sebodoh itu untuk tahu kalau senyum yang gue kasih ke dia itu palsu. Buru-buru Bebby menggamit tangan gue dan meremasnya pelan. Seolah-olah skak mat, gue sekarang bahkan tidak tahu harus berbuat apa.

“Jeje?”

Mampus!

Kenapa pakai acara dipanggil Juna?

Bebby udah menarik lengan gue untuk lari dan pura-pura amnesia, tapi rasanya seperti kaki ini seolah keras membatu. Kenapa deh gaya tarik di bumi seolah-olah kacau kalau gue sudah ada di dekat Arjuna. Bahkan setelah hampir dua minggu berhasil untuk tidak bertemu sama sekali, hari ini kami dipertemukan juga. Ketemunya juga dalam kondisi yang tidak diinginkan pula.

“Jeje,” Juna menepuk pelan bahu gue, tersenyum seolah tidak ada apa-apa. “Kamu ngapain di sini?”

Rasanya pingin gue tampar mukanya yang sok tidak bersalah itu, tapi ada sesuatu yang menahannya. Pada akhirnya gue cuma tersenyum formalitas. “Lagi belanja. Kamu?”

Di sebelah gue, Bebby udah pasang muka merengut benci melihat Arjuna. Sapaan ramah Arjuna jelas-jelas ditolaknya dengan buang muka terang-terangan. Walau diperlakukan begitu oleh Bebby, Arjuna cuma pasang ekspresi gemas dan tertawa kecil untuk menanggapinya.

“Aku lagi nemenin Silla. Dia nyari hiasan porselen natal gitu.” Juna.

Gue manggut-manggut. “Ooh… Asik ya?” kata gue, asal keluar dari mulut.

“Kamu sehat? Kok udah lama gak ngehubungin aku sih?” tanya Juna sambil mengelus puncak kepala gue.

Bukan gue yang menjawab, tetapi Bebby. “Jeje sehat kok! Karena udah lama gak ngehubungin kakak, makanya dia sehat! Soalnya kakak itu… hmmph!”

Buru-buru gue membungkam mulut Bebby. Anak ini kalo udah ngomel biasanya panjang lebar dan asal keluar sembarangan kata. Gue gak mau kelihatan desperate di depan Arjuna. Terserah dia mau melakukan apapun dengan perempuan manapun. Toh, gue memutuskan untuk tidak lagi peduli dengan Arjuna, sejak terakhir dia meninggalkan gue sendirian di apartemennya.

“Sayang,” perempuan yang tadi Arjuna bilang bernama Silla memanggilnya. “Lucuan yang mana ini?”

“Bentar!” kata Arjuna, lalu kembali memandang gue dengan tatapan yang malas gue artikan.

“Itu dipanggil. Aku tinggal dulu ya, Jun…”

Gue baru mau balik badan untuk menyusul Bebby yang sudah ngeloyor bete menghampiri Aya dan Abay, saat Juna menarik pergelangan tangan gue. Kalau gak ingat ini tempat umum, rasanya ingin gue injak saja kaki Arjuna keras-keras lalu lari secepat mungkin dari sana.

“Itu loh dipanggil ceweknya, “ kata gue. “Gih, buruan sana.”

“Junaa?”

Silla kelihatannya mulai bingung mencari Arjuna. Bisa mampus kalau dia nemuin gue yang lagi bareng sama Arjuna begini. Gue gak mau dijadiin bahan tontonan publik, kalau-kalau Silla ternyata spesies perempuan yang doyan ngegampar.

“Kapan kita bisa ketemu lagi, Je?” tanya Juna.

“Kalo aku sempet.” jawab gue, asal. “Sana, itu dicariin. Kalo ketahuan dia, nanti aku digampar.”

Arjuna malah tertawa renyah, lalu mencium bibir gue untuk sekian detik. Gue terlalu shock untuk menanggapi kelakuan Arjuna tadi. Bukannya buru-buru menghampiri Silla yang wajahnya mulai kelihatan agak panik, Juna malah sibuk sendiri menikmati ekspresi shock gue.

“Gak ada yang boleh nyakitin kamu.” kata Aruna sambil membelai pipi gue dengan punggung tangannya. “Aku kangen sama kamu, Je…”

Gue gak berani berbuat apa-apa. “Itu dicariin. Aku mau nyari temen-temen aku juga.”

“Salam yah buat temen-temen kamu.” Arjuna.

“Iya, aku salamin nanti.”

Kemudian secepat mungkin gue berlari meninggalkan Arjuna, sama sekali gak berniat menoleh. Sekuat hati gue berusaha menahan diri untuk tidak mau tahu apa yang Arjuna lakukan bersama perempuan bernama Silla itu. Begitu gue mendekat ke Aya, gue langsung menghambur ke pelukan dia.

“Gue mau pulang…” kata gue menahan tangis.

“Gak mau jalan-jalan dulu kemana gitu?” Abay berusaha untuk menghibur gue. Tangannya mengelus belakang kepala gue.

“Gak mau. Gue mau pulang…”

“Ya udah, ya udah. Yuk pulang…” kata Aya.

Berakhirlah hari berbelanja peralatan natal. Mood gue terlalu buruk untuk melanjutkan pencarian barang. Toh ini masih minggu pertama natal, masih tidak masalah kalau belum menghias pohon natal.

13 – A New Year Plan

Disclaimer :  People, names, some places, and events in this story are fiction. If there is a similarity with any particular situation out there, it’s only by a chance only. No copycat. Be a respectful reader.

A NEW YEAR PLAN

Bulan Desember, artinya sudah saatnya gue berbelanja keperluan natal. Menjadi satu-satunya yang bukan muslim tidak menjadi halangan apapun dalam persahabatan gue dengan Aya, Abay, dan Bebby. Justru merekalah yang paling semangat untuk membantu gue memasang pohon natal jika tanggal 1 Desember tiba. That’s what we called ‘Harmony in Diversity’.

Pagi-pagi banget Abay sudah duduk manis di ruang tengah. Bukan hanya kedatangan Abay di hari minggu pagi yang membuat gue melek total dari setengah tidur, tetapi juga pohon natal polosan di sudut ruangan. Gue gak tahu kapan pohon itu dikeluarkan dari gudang, tapi jelas pelakunya adalah Abay. Sedikit tersentuh, gue berjalan ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi dan setangkup toast with butter buat Abay.

“Lo pasti terharu kan?”

“Kagak!” kata gue sambil menaruh secangkir kopi susu dan setangkup toast with butter di hadapan Abay. Sambil memandang pohon natal polos di sudut ruangan, gue duduk membanting badan di sebelah Abay, “Udah mau penghujung tahun aje…”

Abay mengacak bagian belakang kepala gue, “Cari pasangan yang bener, Jenna… Tahun depan kenalin cowok baik-baik sama Mama Papa di Semarang.”

“Yee… kenapa jadi ngomongin gitu sih?” kata gue, setengah merajuk.

“Kalo diomongin sama orang yang lebih tua, jangan banyak komplain!” Abay.

“Iya, Mas Abay…”

Abay bergidik dan menatap gue dengan sengit. “Hidih! Geli gue dipanggil kayak gitu sama lo!”

Abay baru hendak menghirup kopi susu yang gue buatkan tadi ketika tiba-tiba terdengar suara gedebuk cukup heboh dari lantai dua. Bebby sudah seminggu lebih menginap di apartemen gara-gara eternit kamarnya terancam jebol karena hujan yang terus-terusan. Daripada dia tiba-tiba keruntuhan eternit beserta tikus dan keluarganya yang bermukim di sana, gue dan Aya mengajak Bebby tinggal di apartemen sementara dan berbagi kamar dengan Aya. Jadi, suara gedebuk di atas tadi, kalau bukan Aya pasti Bebby yang jatuh.

“BEBBBYYY!!!!”

Ah, ternyata Aya yang jatuh.

“Lo kebiasaan deh! Besok-besok gue suruh tidur di bath-tub nya Jeje nih!” kata Aya, mengelus-elus bagian belakang kepalanya sambil menuruni tangga. Matanya masih belum terbuka sempurna, tapi rambutnya berantakan sempurna. “Udah disini aja lo Kun?”

“Udah, bosen di rumah…” Abay.

“Minggu-minggu gini kok bosen?” Bebby kemudian muncul dari atas dengan rambut yang tak kalah sempurna berantakannya, “Bokap nyokab? Adek lo?”

“Pada balik ke Solo…”

“Lah? Lo kagak ikut?” Aya.

“Gara-gara jadwal cuti gue gak jelas, nyokab gue jadi ratu tega banget. Udah dari bulan lalu gitu mereka beli tiket kereta api pulang ke Solo. Karena Tiara udah libur kuliah, mereka berangkat hari ini.”

“Pulang kapan?” tanya Bebby sambil menuang susu dari dalam kulkas.

“Sebulan dia orang di Solo. Tega banget kan keluarga gue? Kata nyokab gini masa…,” Abay berdehem sejenak sebelum menirukan suara ibunya yang sangat halus ala putri Solo itu, ‘Mas Abi kan biasanya klo akhir tahun natalan sama Jenna dan temen-temen. Tahun baruan juga sama temen-temen. Makanya Ibu gak pesenin tiket. Mas Abi pulang ke rumah eyang putri pas lebaran aja ya?’ Begitu masa katanya??! TEGA!!”

Bukannya prihatin, gue, Aya dan Bebby malah tertawa kencang-kencang dengan tatapan menghina pada Abay. Jadi, Bapak dan Ibunya Abay itu asli dari Solo, tetapi Abay dan adiknya, Tiara lahir di Jakarta. Biarpun lama menetap di Jakarta, Ayah dan Ibu Abay masih sangat memegang teguh kebudayaan Jawa dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ayahnya Abay, Pak Bima, masih suka mengenakan blangkon dalam kesehariannya. Ibunya Abay, Ibu Ratna, masih menggunakan bahasa Jawa halus saat berbicara. Bahkan adik Abay diberi nama Mutiara Srikandhi. Kata Ibunya Abay, biar Tiara tumbuh seperti Srikandhi, nama salah satu tokoh pewayangan.

“Ya udah, lo beli aja tiket balik sendiri. Susah amat?” kata Aya.

“Sembarangan lo kalo ngomong!” Abay menuding Aya. “Ini kan peak season, udah abis tiket di mana-mana!”

“Aaaa…” kata Aya lalu menepuk bahu Abay. “Sabar ya, Kun…”

“Pagi-pagi udah rese ah lo!”

“Biar Abay gak galau, gimana kalo kita pergi aja gitu kemana pas menjelang akhir tahun ini?” usul Bebby. “Abis acara tukar kado natal gitu…”

“Boleeh… boleeehh…” kata gue sambil mengeluarkan pernak pernik natal dari dalam kardus yang disimpan di ruang penyimpanan bawah tangga.

“Heh! Tapi cewek lo marah kagak, Kun? Kalo dia ngamuk tak terkendali terus ngancem lompat dari menara provider gimana?” Aya.

“Biarin aja!” Abay lalu mengunyah toast-nya. “Gak usah turun, biar tinggal di atas sana aja sekalian.”

“Ya terus kita mau ke mana?” tanya Bebby yang sudah manis di meja makan dengan segelas susu dan sepiring cookies. “Bali gimana?”

“Astaga Bebbyyyyy…..” Abay bangkit dari sofa dan menghampiri Bebby. Dengan gemas ditoyornya pelipis Bebby. “Gue mau balik Solo aja kagak ada tiket, apalagi Bali. Bebby kapan pinternya sih?”

“Kapan-kapan, Abaaayy…” kata Bebby, merengut kesal tapi kelihatan lucu. Apalagi dengan bekas susu di atas bibirnya.

“Puncak?” usul gue. “Om gue punya villa di Puncak. Mumpung dia natal tahun ini ke Belanda, kita pake aja. Gimana?”

“Gue sih kemana aja, asal bisa liat kembang api.” kata Aya sambil mencomoti cookies yang ada di hadapan Bebby, membuat Bebby kesal dan memukul kencang punggung tangan Aya, “Hih! Itu kan yang lo makan cookies gue!”

“Tapi kan gue tamu lo, Ay…. Tamu itu harus diperlakukan bagai raja…” rajuk Bebby, lalu kembali menuju kulkas untuk mengambil beberapa keping cookies lagi dari bungkusnya dan menaruhnya di piring yang sudah kosong. “Jangan diambil lagi!”

“Iyeee!” kata Aya sambil menjambak rambut Bebby. Yang dijambak sih cuek aja, kembali seru memakan cookies sambil minum susu.

“Saran lo boleh juga tuh. Gak papa tapi om lo?” Abay.

“Gak papa kok. Biasanya emang dipake sama dia buat acara tahun baruan keluarga,” kata gue, “Nah, karena tahun ini gak dipake, kemarin dia koar-koar di grup BB buat nawarin kalo ada yang mau pinjem.”

“Gede gak tempatnya?” tanya Aya, wajahnya nampak tertarik.

“Gak terlalu gede sih. Cuma di bagian belakang ada taman yang biasa dipake sepupu gue buat BBQ-an. Kalo kembang api, kita bisa sih beli. Tapi tetangga-tetangga sebelah villa biasanya juga nyalain gitu kok. Yang di depan villa om gue, anaknya pasti beli kembang api yang gede banget gitu di udara. Jutaan gitu mereka kalo beli, karena acara keluarga besar.” kata gue panjang lebar. Dari ekspresinya, kelihatan banget kalo sahabat-sahabat gue ini pasti mengiyakan villa om gue untuk tujuan akhir tahun.

“Bagus, Je! Telepon om lo gih buruan!” perintah Bebby.

“Heh, itu bibir dilap dulu baru nyuruh-nyuruh gue!” kata gue, lalu melempar box boneka tissue ke arah Bebby.

“Aseeek! Liburaaann…” Aya.

12 – Abay’s Over Jealous Girlfriend

Disclaimer :  People, names, some places, and events in this story are fiction. If there is a similarity with any particular situation out there, it’s only by a chance only. No copycat. Be a respectful reader.

ABAY’S OVER-JEALOUS GIRLFRIEND

“Gue gak mau pulang pokoknya!” teriak Abay, gak pernah nampak sekesal ini sebelumnya. “Kalo gak boleh nginep sini, ya udah! Gue tidur di hotel!”

Gue gak tahu kejadian persisnya bagaimana, yang jelas sewaktu gue balik ke apartemen beberapa menit yang lalu, Abay sudah duduk di ruang tengah sambil marah-marah. Semuanya karena Tara yang semakin lama menurut Abay semakin kelewat posesif.

Seperti kejadian hari ini, penyebabnya masih karena insiden kepergok di Food Court Central Park beberapa hari yang lalu. Sejak saat itu, Tara menjadi sangat-sangat overprotective pada Abay. Segala yang Abay lakukan harus sepengetahuan Tara. Dimulai dari bangun jam berapa, makan apa, pergi ke mana sampai pakai baju warna apa, Tara harus tahu. Awalnya Abay berusaha maklum karena merasa bersalah telah berbohong tempo hari itu. Tapi semakin lama, semakin kelewatan.

“Ok, waktu itu gue salah. Tapi kudu gitu diungkit-ungkit terus?!”

Aya menyodorkan sekaleng coca-cola pada Abay. “Yah mau gimana lagi? Emang tabiatnya gitu…”

“Pertahanin aja tabiat kayak gitu terus! Gue gak mau peduli lagi sama dia!” Abay masih marah-marah. Berkali-kali ponselnya berbunyi, akhirnya dibantingnya juga ke ujung ruangan, “Telepon aja terus sampe tua! Gak bakal gue angkat!”

Gue yang benar-benar baru datang, sama sekali gak tahu kenapa Abay semarah itu. Menurut gue, model-model seperti Tara itu kalau didiamkan juga nanti capek sendiri. Jadi gue belum bisa mengerti, kenapa Abay semarah itu. Bahkan sampai ngotot gak mau angkat telepon yang ternyata dari ibunya.

“Sebenernya gimana sih ceritanya? Kenapa telepon dari nyokab lo gak diangkat?” tanya gue.

“Lo pikir aja coba?!” teriak Abay sambil menuding-nuding dengan penuh emosi. “Gue baru balik dari Medan tadi pagi. Si Tara udah ngeributin minta ditemenin ke rumah temennya di Salemba. Gue capek, dan gue jujur aja sama dia kalo gue gak bisa nemenin dia karena mau istrirahat di rumah. Mumpung Pak Abi ngasih ijin libur sehari. Suer! Gue cuma mau tidur!”, Abay mengangkat tangannya tinggi-tinggi di udara, “Gue beneran cuma niat mau tidur panjang, nah itu si Tara gak terima. Nuduh gue mau jalan sama Aya, nuduh gue tukang bohong. Bangke banget kan?”

“Terus, terus?” gue masih menunggu lanjutan cerita Abay, “Kenapa yang kena imbas nyokab lo?”

“Gue gak marah sama nyokab gue,” Abay meneguk cola di tangannya, lalu kembali melanjutkan kata-katanya, “Tapi sekarang Tara itu ada di rumah gue. Dia ngotot gak mau pulang sampe gue mau nemuin dia.”

“Ih!” Bebby mengernyit sebal.

“Ya gara-gara itu nyokab gue dari tadi nelponin gue. Kan gue kesel! Pake acara nangis buaya ke nyokab gue, bilang kalo gue mainin perasaan dia, ngasih janji palsu mau nikahin dia…” Abay.

Aya tertawa pelan lalu menoyor Abay dari belakang kepalanya. “Makanya, lo kalo ngomong sama pacar lo, jangan asal umbar janji. Kayak lagi pilkada aja lo!” Aya kemudian menoyor Abay sekali lagi.

“Heh! Gue gak umbar janji ya! Gue serius waktu bilang gitu. Tara itu bisa deket sama bokap nyokab gue, makanya gue niat mau nikah sama dia nantinya. Mana gue tau rese kayak gini?”

“Terus?” tanya gue, duduk di sebelah Abay. “Lo mau putusin dia?”

“Menurut lo?” Abay malah tanya balik.

Gue bukan tipe sahabat yang bisa dengan intuitif memberi saran pada sahabat. Sebaliknya, gue yang selalu menuntut mereka untuk dapat memberikan gue saran. Makanya dalam situasi seperti ini, gue gak berani memberikan jawaban pada Abay. Kalo menurut gue, jelas gue mau Abay putus sama Tara. Tapi yang punya hubungan itu Abay dan Tara, gue merasa gak punya hak sama sekali.

“Tanpa jawaban gue, lo pasti udah tahu harus berbuat apa.” kata gue, yang disambut dengan buang muka oleh Abay.

“Lo selalu gitu kalo ditanya, Je!”

“Tapi gue sependapat sama Jeje,” Aya tiba-tiba menyahut. “Lagian ini bukan pertama kalinya lo begini. Suka sama cewek, terus ceweknya gak sesuai dengan keinginan lo, terus putus. Lalu ketemu cewek baru lagi, pacaran lagi, kalo gak cocok lagi putus lagi. Yang gue heran, kenapa sama Tara pakai acara ngumbar janji nikah sih?”

“Umur gue udah berapa? Gue kan kepingin serius. Lagian yang gue harapin kan gak bakal pernah kesampean, ya gue cari yang mungkin diharapin aja…”

“Hegh!” Aya tiba-tiba seperti tersedak.

“Lo kenape, Mun? Kesindir?” tanya Abay sambil tersenyum penuh kemenangan.

“GAK! AUK AH!!”

“Abay,” Bebby yang dari tadi gak banyak bicara, akhirnya ikut berusaha. “Lo sama siapa aja gak apa-apa. Tapi cari yang bisa ngertiin lo. Cari yang kira-kira gak bakal bikin sahabat-sahabat lo seolah jadi pengganggu. Siapapun yang nanti jadi sama lo, kita pasti dukung kok…”

“Uuu, Bebby…” Abay mengelus dahi Bebby. “Lo so sweet banget sih?”

“Iya dong…” kata Bebby pasang pose sok imut, kemudian menyodorkan tangan pada Abay, “Biaya konsultasi cinta lima puluh ribu, mana?”

“BUSET! Mahal amat?!” Abay.

“Uda diskon teman itu!” kata Bebby lagi, gue otomatis tertawa melihat ekspresi dia yang melipat tangan di dada sambil mengangkat dagu tinggi-tinggi.

“Pulang gih,” kata gue. “Kasian nyokab lo…”

“GAK! Gue gak mau pulang!”

“Hiih, tapi hari ini jatahnya gue yang nginep sini, Abay…” rengek Bebby, “Gue tidur sama Aya. Sempit kasurnya kalo buat bertiga…”

“Gak papa bertiga, latihan kalo seandainya kita kena bencana alam, di tenda pengungsian udah terbiasa.” kata Abay sambil tersenyum penuh binar di matanya, seolah-olah apa yang dikatakannya adalah demi perdamaian dunia.

“Hidih! Amit-amit!” gue, Bebby dan Aya sama-sama mencari kayu terdekat untuk diketuk-ketuk.

“Doa lo bangke amat sih, Bay!” kata gue.

“Bukan doa… Gue cuma bilang kalo seandainya gitu.” Abay.

“YA GAK USA DIBAYANGIN GITU!!” Aya.

“Yah kalo gak boleh bertiga,” Abay menoleh ke arah gue. “Gue tidur sama lo aja ya, Je? Gimana?”

Gue otomatis menepuk pipi Abay lumayan kencang. Anak satu ini suka kumat penyakit gilanya.

“Kok gue ditepok sih? Lo kata nyamuk?!” protes Abay.

“Iye! Muka lo kayak nyamuk! Sembarangan aja lo bisa tidur di kamar gue! Noh, tidur di sofa aja!” Gue.

“Gak apa-apa. Gue pinjemin selimut ya?”

“IYE!” kata gue, lalu memukul bahunya keras sekali. “Sampe kapan sih lo mau ngerepotin kita gini, Bay?”

“Sampe lo semua akhirnya nemuin cowok baik dan menikah, itu tandanya gue harus berhenti ngerepotin kalian.” Abay.

“Uuuu… Abay…” kata Bebby, lalu membentuk tanda hati di atas kepala ala korea.

Tiba-tiba ponsel Aya berbunyi. Aya mendadak panik saat melihat nama ‘Abay’s Mom’ di layarnya. Sangking paniknya, ponsel itu dilemparnya ke sofa, tapi diambil lagi oleh Bebby.

“Halo… Assalamualaikum, Ibu… ini Bebby.” kata Bebby. “Aya lagi keluar sebentar, hape-nya ditinggal. Iya, Abay di sini kok, Bu… Oh! Iya… Nanti Bebby bilangin ke Abay. Iya, Bu… Walaikumsalamm…”

“Nyokab gue bilang apa?” tanya Abay, penasaran.

“Cuma bilang minta tolong nitip lo. Biar Tara diurus Ibu.” kata Bebby.

“Bay, besok coba masalahnya diselesaikan aja lah. Jangan lari kayak anak kecil gini.” kata gue.

“Gue capek abis dari Medan, makanya gue belum ada mood untuk beresin. Nanti lah…” Abay.

“Jangan sampe nama gue dibawa-bawa ya, Kun! Gue sambit lo kalo tuh cewek masih nyari gara-gara sama gue!”

“Iya, Muuun… Lo kalo ngambek cakepan deh.”

Aya melempar selop ke kepala Abay, telak mengenai sasaran. “Lo rese lagi, yang gue lempar remote TV loh!”

11 – Accidentally In Love

Disclaimer :  People, names, some places, and events in this story are fiction. If there is a similarity with any particular situation out there, it’s only by a chance only. No copycat. Be a respectful reader.

ACCIDENTALLY IN LOVE

Adakah satu dari antara kalian yang pernah mengalami perasaan seperti ini? Terpesona pada seseorang yang baru pertama kali dilihat, kemudian berkhayal jika kita bersama dengan orang itu dan tiba-tiba saja. Sensasi kupu-kupu di perut yang sering dibicarakan di novel-novel remaja picisan itu melanda. Pernah seperti itu?

 …

Gue gak tahu apa penyebab ‘tiba-tiba craving for junk food’ yang melanda gue sejak kemarin malam. Sebelum fantasi liar tentang ayam goreng crispy berbumbu itu mengubah gue menjadi werewolf, gue putuskan untuk membangunkan Aya di pagi-pagi buta.

“Ay, bangun dong…”

Aya tidak bergerak sama sekali, hanya menyahut dengan suara yang hampir-hampir tidak terdengar, “Ng?”

“Tolongin gue dong…”

Aya hanya bergeser sedikit dari posisi tidurnya, masih memeluk bantal, “Apa?”

“Gue pengen KFC deh, ke sana yuk…” kata gue, sambil menggoyang-goyang badan Aya, “Gue traktir deh…”

Aya perlahan membuka matanya dan duduk di tempat tidurnya dengan rambut berantakan kemana-mana. Masih dengan mata sangat sipit, ia melirik ke jam yang menempel di dinding, “Gila lo, Masih jam 5 gini?! Males ah!” kemudian Aya kembali membanting badannya ke tempat tidur.

“Ayaaaa!!”

Bukannya bangun atau minimal marah-marah karena gue teriakin begitu, Aya malah tetap cuek dan semakin mengubur diri di dalam gulungan selimut dan tumpukan bantal. Aya memang selalu begitu. Sebal karena terus-terusan dicuekin, gue putuskan untuk mengambil tindakan barbar. Menarik seprai Aya sampai lepas dari kasurnya.

“Jennaaaa! Gue masih ngantuk!”

“Iya, tapi gue pengen KFC! Temenin gue yaaaa??”

Aya merengut sambil meraih kaca mata yang ada di sisi tempat tidurnya. “Lo tuh ya,” kata Aya sambil memakai kacamata, “Kenapa sih gak makan sendirian aja? Ini tuh sabtu. Gue kan mau tidur panjang setelah beberapa hari disiksa Ibu Nainggolan! Lo gak bisa ngeliat temen tenang deh…”

“Gue pengen KFC,” kata gue, gak peduli sama omongan panjang lebar Aya tadi.

“HAAAH!” Aya bangun dari tempat tidur dan mengambil handuk yang tergantung di sudut kamarnya, “Gue mandi dulu!!!”

“Ini udah kesekian kalinya yah, Je! Lo kalo craving, milih-milih waktu yang pas dong!” omel Aya, tangannya mulai membuka bungkusan riser.

“Terakhir lo tuh pingin cakwe medan jauh-jauh di Muara Karang pas jam setengah 11 malam. Sampe sana udah tutup terus kita kena macet. Sebelumnya lagi lo craving hotdog-nya Sevel jam tiga pagi. Ngerepotin deh ah!”

“Abis gimana dong? Gue mendadak kepingin…” kata gue sambil meniup-niup daging ayam yang masih panas, “Gue usahain lain kali gak lagi deh…”

“Lo mah usaha melulu, tapi gak ada hasil! Pemberi harapan palsu! Cih!” Aya.

Saat inilah, ketika gue sedang duduk memperhatikan Aya yang masih bersungut-sungut, seseorang melintas di sebelah gue, membawa nampan berisi segelas kopi dan sepiring kecil cheese donut. Wajahnya nampak sangat lelah, tetapi masih mampu berjalan tegak dan gagah. Rambutnya sedikit berantakan di bagian belakang. Kedua lengan kemejanya digulung, namun yang sebelah kiri digulungnya agak tidak rapi. Pandangan matanya yang tajam menelusuri setiap huruf yang ada pada lembar koran di tangannya.

Could it be love? Could it be love? Raisa bertanya lewat lagunya yang tiba-tiba diputar di KFC.

“I don’t think so.” Jawab gue, delusional.

“Apaan yang I don’t think so, Je?” tanya Aya, nampak bingung melihat gue, “Lo kenapa deh? Kayak orang kesambet gitu.”

“Oh!” buru-buru gue mengembalikan kesadaran gue, “Gak kenapa-napa. Tadi lo ngomong sampe mana?”

“Ngomong sampe mana apaan sih? Gue gak ngomong apa-apa lagi kali,” Aya mengernyit, “Aneh Ah, Je!”

Suara Aya seolah perlahan kembali menghilang, begitu juga suara lain yang ada di sekitarnya. Kepala gue mendadak dipenuhi segala macam wacana berjudul ‘Seandainya…’. Seandainya laki-laki seperti itu yang bersama gue selama hampir empat tahun ini, mungkin gue gak perlu berbohong pada orang tua jika mereka bertanya, ‘Kamu tuh kalo pulang ya sekali-kali bawa pacar, apa gimana gitu? Jangan bawa koper doang…’. Seandainya laki-laki seperti itu yang gue sukai dalam empat tahun belakangan ini, mungkin sekarang gue sudah memikirkan bagaimana menjadi calon istri yang baik buat dia.

“Je?” samar-samar suara Aya kembali terdengar.

“Oh,” kata seseorang itu kepada entah siapa yang ada di seberang ponselnya. “Saya lagi ngopi sebentar, sebentar lagi saya balik.”

“JENNA!!” Aya

“OY! Apaan sih lo teriak-teriak?”

“Lo itu kenapa sih?! Serius, aneh!” Aya sekali lagi mengernyit sambil menghirup cappucino-nya. “Dari tadi kayak gak fokus gitu…”

“Gak kenapa-napa.” kata gue, gak mau cerita panjang lebar. Takut diketawain. “Balik yuk…”

“Lah, ayam goreng lo belum abis gitu?” Aya menunjuk ke sepotong ayam di hadapan gue yang kulitnya sudah habis gue makan dan dagingnya sudah rompal di beberapa sisi.

“Nanti gue tambah gendut,” kata gue asal. “Gue kan bukan lo yang makan apa aja tetap bisa mungil gitu.”

 …