BITTER FAREWELL, SWEET HELLO

“BITTER FAREWELL, SWEET HELLO”

By : Janet Xu

  • Cast : Son Naeun (Apink), Lee Taemin (SHINee)
  • Genre : Romance
  • Length : Oneshot
  • Rated : PG-15
  • Rule : No bashing, No plagiarism, Please be a good reader ^^and also Please leave your comment after read this fiction. I need your opinion or support  to improve my writing skill so I can present a better story. ^^
  • Disclaimer :  The casts are not belong to mine, the characters and the story are belong to mine. Just a fiction, if you don’t like, please be respectful.

A farewell without you is too hard
If you’re not satisfied with me and need to love another person
If that’s good for you, then it’s good for me too

– Zia (For A Year)

Aku masih ingat saat itu. Saat suara deru kereta api seolah berkejaran dengan detak jantung yang berdentum di dalam rongga dada ini. Tidak mungkin kulupakan, rasa sesak yang menekan tenggorokanku, suara tercekat yang keluar dari kedua bibir yang gemetar ini, saat kau katakan,

“Selamat tinggal, Son Naeun…”

Tega!

Hanya itu satu-satunya kata yang bergema dalam pikiran ini, sementara mulut ini seperti terkunci.

Kata orang, stasiun memang tempat perpisahan. Tapi aku tak menyangka bahwa perpisahan yang kualami ini, bukanlah perpisahan untuk bertemu kembali. Laki-laki ini pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Sebab ia pergi untuk perempuan lain. Selamanya pada perempuan itulah ia akan kembali. Bukan padaku.

“Kamu perempuan baik, Naeun-ah…” katanya sambil mengelus pipiku, menghapus air mata yang menggenangi pelupuk mataku dengan punggung tangannya. “Dan aku bukan laki-laki yang tepat buat kamu…”

Kalau aku baik, kenapa ia tega meninggalkanku? Mencari perempuan lain, bukankah artinya aku kurang baik? Ingin kutepis tangannya saat itu. Tapi hati ini lemah, mata ini tak berani berpaling darinya. Aku baik tapi bodoh. Mungkin itulah alasan mengapa ia memilih perempuan itu.

Hari itu, aku menangis terduduk di peron kereta. Menangis keras-keras, memukul dadaku kencang-kencang. Sakit di dada ini mengalahkan malu. Rasanya lebih perih daripada dihunus pisau. Masih terbayang senyumnya saat perlahan kereta berlalu. Senyumnya bahagia, tidak pernah secerah itu sebelumnya. Senyum itu sungguh seperti membunuhku. Tiga tahun bersama, ternyata bahagia tak pernah kuberikan padanya. Senyumnya untukku selama ini mungkin hanyalah pemanis saja.

Kalau dia bahagia untukmu, aku pun akan bahagia untukmu.

Setidaknya, aku akan belajar untuk bahagia untukmu.

Setahun berlalu, aku masih berusaha mengubur kenangan itu. Namun nyatanya, masih sulit rasanya menghapus bayang-bayang perpisahan itu. Buktinya saat ini, aku sedang duduk di stasiun kereta api ini. Sendirian, memandangi lalu lalang manusia di samping sebuah gerbong kereta yang akan berangkat beberapa saat lagi. Di hadapanku, seorang gadis menunduk meneteskan air matanya, sementara di hadapannya berdiri seorang laki-laki yang tersenyum pahit sambil menangkup kepala gadis itu. Laki-laki itu mengecup puncak kepala si gadis, kemudian berbisik pelan. Entah apa yang dibisikannya, yang jelas gadis itu perlahan menampakan senyumnya, memeluk laki-laki itu dan mengecup pipinya. Mau tak mau aku tersenyum karenanya.

Beberapa menit berlalu, kereta api perlahan berlalu. Nampak juga beberapa yang berlari kecil di samping gerbong-gerbong yang pelan-pelan bergerak. Seorang ibu yang tersenyum menahan tangis sambil melambai pada putrinya di balik jendela. Wajah ibu itu sedih tapi tersirat raut bangga. Dugaanku, sang anak pergi ke suatu tempat untuk mengejar cita-citanya. Sekali lagi,aku tersenyum karenanya.

Stasiun mungkin memang tempat perpisahan. Namun ada banyak kisah berbeda di balik perpisahan itu. Ada banyak tangis, tapi tangis yang memiliki arti masing-masing. Dan kisah milikku bukanlah salah satu yang bagus.

Tak ada gunanya berlama-lama di tempat ini, aku beranjak dari tempat dudukku. Tepat saat aku melangkah, sebuah kereta datang di balik badanku. Suara pintu kereta yang terbuka terdengar jelas. Aroma pendingin mulai menusuk hidungku. Langkah-langkah kaki terburu-buru juga berderap-derap setelahnya. Lalu kemudian seorang laki-laki dengan kemja berlapis sweater kotak-kotak menabrakku hingga aku terjatuh.

“Agasshi! Cheongmal Jeosonghamnida!” [Nona! Saya sungguh-sungguh minta maaf!] katanya lalu mengulurkan tangannya.

Aku menyambut uluran tangannya, perlahan berdiri lalu menepuk-nepuk rok untuk membersihkan beberapa bagian yang kotor. Lumayan sakit juga.

“Gwenchanayo,” kataku. “Anda pasti terburu-buru…”

“Son Naeun?”

Aku terhenyak oleh panggilan itu. Bagaimana bisa laki-laki ini mengenaliku?

Dengan seksama kuperhatikan wajahnya. Sepasang mata bening seperti mata rusa. Senyum ramah dari kedua belah bibirnya. Helai-helai rambut hitam yang jatuh hampir menutupi setengah matanya. Bahunya yang bidang. Dan aroma mint yang menguar dari dadanya. Aku ingat siapa dia.

Empat tahun yang lalu, aku melepasnya di stasiun ini. Sama seperti ibu yang melepas putrinya tadi, aku melepasnya dengan tangis tertahan dan senyum bangga dari balik jendela yang perlahan menghilang dari pandanganku. Temanku ini akan pergi dari kota ini untuk mengejar harapannya, menjadi seorang penyanyi. Tak tahu kapan ia akan kembali.

Dan kini ia berdiri di hadapanku, masih memegang sebelah tanganku.

Dia benar-benar berubah. Dulu ia hanya seorang anak laki-laki bertubuh kecil dan kurus dengan rambut agak panjang dan dicat warna kuning. Sekarang ia bertambah tinggi, bahunya terlihat lebar, garis wajahnya tampak lebih keras, rambutnya hitam, tetapi senyum ramahnya tetap sama. Sorot matanya masih hangat seperti dulu.

“Lee Taemin! Oraenmaniya!!” [Lee Taemin! Lama tak bertemu!!]

Aku tak pernah tahu skenario apa yang dunia ini siapkan untukku. Stasiun bukan lagi tempat perpisahan bagiku. Di tempat ini aku berpisah dengan seseorang yang tak akan pernah dapat kutemui lagi. Di tempat ini juga aku bertemu kembali dengan seseorang yang kukira tak akan pernah kutemui lagi.

“Bogoshipeo, Naeun-ah…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s